Cerita Kedai Kopi Expresso
Febuary
Hujan masih merintik dari sisa Desember yang terus membasahi pusat kota Lampung. Dimana ada satu Kedai Kopi dengan berbagai macam menu Kopi hangatnya. Tempatku biasa bersantai dan menikmati kehangatan Kopi sambil melihat hujan yang turun begitu derasnya. Membuat irama rintik yang begitu kuat dan tajam.
♦
Hari ini jadwal kuliahku tak begitu padat. Hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan dosen di pagi hari lalu jam kuliah pun usai. Aku menyempatkan diri untuk pergi ke Kedai Kopi yang tak begitu jauh dari kampus. Begitu dekat hingga dapat dilihat dari lantai 4 kampus. Aku mulai bergegas menu Kedai karena awan gelap mulai menyelimuti lingkungan kampus kala itu. Aku yang begitu terobsesi dengan kopi. Kopi memiliki suatu keajaiban dalam setiap adukannya. Kopi tidak sejahat apa yang kalian baca dalam daftar bacaan kesehatan. Kopi memiliki kekuatan sendiri bagiku yang tidak bisa begitu jelas untuk diterangkan. Kopi hanya ramuan kecil yang dibuat untuk para penikmatnya yang memiliki karakter masing - masing dalam setiap jenisnya.
♦
Kedai Kopi
Aku meletakkan tas ransel dan beberapa file yang kubawa dengan amplop coklat di atas meja untuk segera memesan.
"Bu, Kopi Expresso nya satu, roti bakar nya satu juga yaa...!"
"Eh.... Nak Manda, tumben jam segini sudah muncul..." Sahut Ibu Kedai dengan nada heran.
"Iya nih Bu... Hari ini jadwal kuliahnya sedikit hehe.." Jawabku dengan tawa kecil kepada Ibu Kedai.
"Okeee... Nanti Ibu antarkan yaaa...."
Aku kembali menuju tempat duduk yang berada dekat dengan pintu masuk Kedai. Tempat duduk favorite yang biasa ku duduki ketika berkunjung ke Kedai Kopi. Entah, mengapa tempat duduk ini selalu sepi dan tidak ada orang yang menempatinya. Mungkin karena berletak tepat di sebelah kanan pintu masuk Kedai seperti yang aku bilang. Dari jendela yang sedikit berdebu aku melihat gerimis yang mulai turun membasahi sepeda motor dan helm yang aku parkirkan di samping pintu masuk Kedai. Aku mengeluarkan buku note kecil dengan pena yang selalu kubawa kemana pun aku pergi ke atas meja. Buku dan pena yang menyimpan berbagai cerita yang kutulis. Aku merasa sangat membosankan jika saja ada hal yang tidak terekam di dalam buku kecil ini. Aku membiasakan menulis sejak 2 tahun yang lalu. Ketika aku mencoba mengingat perihal yang kukerjakan dari hari ke hari. Dan aku memutuskan untuk menulisnya di atas kertas di dalam buku note kecil ini.
"Ini Nak pesanan nyaaa...!" Ibu Kedai datang mengagetkanku.
"Oh iyaaa, terima kasih ya buuu..."
"Mau menulis ya Nak?" Tanya Ibu Kedai yang langsung saja duduk di hadapanku, meletakkan kedua siku nya di atas meja sambil menahan dagu nya dengan telapak tangannya.
"Hmmm.... iseng aja Bu... karena lagi gak ada kerjaan hehe..." Aku mengalihkan pertanyaan Ibu Kedai.
"Terkadang kita memang harus menulis ya? Karena siapa tahu saja ada ucapan yang tak biasa terucap oleh bibir, lalu kita membicarakannya lewat surat." Kata Ibu Kedai sambil memandangi buku note kecil ku.
Aku lantas kaget dan tidak bisa berkata apa - apa ketika Ibu Kedai berbicara seperti itu. Aku berfikir, Ibu Kedai mungkin benar. Surat selalu menang ketika mata sudah tidak bisa menatap lawan bicara dan bibir pun tak sanggup berkata. Surat selalu menjadi penyalur ribuan kata dalam kalimat yang tersusun yang tidak bisa terucap.
"Begitu pula kita ya... Kebanyakan orang tidak bisa menulis karena ragu yang mereka pelihara. Hehehe... Lanjutkan Nak! Ibu tahu kamu sedang menulis untuk seseorang..." Lagi - lagi Ibu Kedai membaca fikiran ku dengan tebakan asalnya yang tepat.
"Iyaaa Bu... terima kasih banyak atas saran dan masukan nya ya Bu..." Aku tersenyum dan mulai merasa semangat penuh datang waktu itu.
Aku mengakui, memang benar untuk beberapa tulisan yang kubuat ini memang untuk seseorang. Bahkan seseorang yang ku kenal sejak lama. Seseorang yang bisa membuatku menulis dengan semangat yang luar biasa tanpa Ia ketahui. Tulisan yang kubuat hanya untuk menjadi hobby dan daftar rutinitas ku dalam mengisi waktu luang. Karena aku tahu, mustahil bagi nya untuk membaca tulisan aneh yang terdapat di dalam buku note kecil ini. Aku akan merasa sangat malu jika Ia sampai tahu dan membacanya. Bahkan walaupun kami sudah saling mengenal cukup lama. Berbicara tatap muka dengannya pun aku tertunduk malu. Dia hanya tertawa karena melihat keanehan tingkah ku ketika berada di depannya, Lalu kuputuskan untuk menulis dan berharap dia mengetahui perasaan ku tanpa harus membaca buku note kecil ini.
♦
Tak terasa lima halaman sudah aku menulis. Aku terhenti dan meletakkan pena serta menutup buku note kecilnya dengan rapih. Aku masih memikirkan perkataan Ibu Kedai sebelumnya. Aku terus mengingatkannya dan itu membuatku kehilangan konsentrasi untuk menulis. Perkataan yang begitu singkat seperti menggerogoti rasa ragu yang aku pendam lama untuk seseorang. Seperti sebuah teguran agar aku melakukan sesuatu. Memaksa benak untuk menggerakkan tubuh dan melakukan suatu usaha yang membuat ungkapan rasa. Tapi aku sadar, itu semua mustahil dan tidak bisa kulakukan. Karena aku yang terlalu memendam rasa suka dan malu jika berada di hadapannya.
Aku mengangkat tangan kiri ku dan menoleh ke arah nya. Melihat arloji yang kukenakan. Ternyata sudah sekitar 90 menit aku menulis dan bersantai di Kedai Kopi itu. Aku melanjutkan menyantap sisa roti bakar dan Kopi yang aku pesan. Hujan pun belum terhenti. Aku mulai memperhatikan orang - orang yang berada di dalam Kedai Kopi saat itu. Tampak lelaki muda dengan kemeja biru garis - garis di arah jam 11 tempat aku duduk. Tengah duduk bersandar dengan wajah gelisah dengan HandPhone di tangan kanan sambil mengetukkan ketiga jari tangan kirinya ke meja yang terlihat seperti menunggu seseorang. Dan di depanku ada perempuan berseragam Pegawai Negri tengah menikmati pesanan nya dengan HeadSet putih yang beliau kenakan. Dan satu lagi ada segerombolan remaja. Duduk tepat di pojok sisi Kedai Kopi. Mereka berlima dengan tiga perempuan dan dua laki - laki. Tertawa sambil berfoto bersama. Kedai Kopi tak begitu ramai saat itu. Mungkin karena hujan datang di waktu pagi jam aktif. Tidak seperti biasanya, suasana Kedai yang begitu bising dengan tempat pemesanan antri karena ramai. Beberapa menit kemudian, langit pun mulai memancarkan wajah cerah. Berbagai bentuk awan putih mulai tersusun mengikutinya. Aku menyegerakan diri untuk pulang dan beristirahat.
Aku mengangkat tangan kiri ku dan menoleh ke arah nya. Melihat arloji yang kukenakan. Ternyata sudah sekitar 90 menit aku menulis dan bersantai di Kedai Kopi itu. Aku melanjutkan menyantap sisa roti bakar dan Kopi yang aku pesan. Hujan pun belum terhenti. Aku mulai memperhatikan orang - orang yang berada di dalam Kedai Kopi saat itu. Tampak lelaki muda dengan kemeja biru garis - garis di arah jam 11 tempat aku duduk. Tengah duduk bersandar dengan wajah gelisah dengan HandPhone di tangan kanan sambil mengetukkan ketiga jari tangan kirinya ke meja yang terlihat seperti menunggu seseorang. Dan di depanku ada perempuan berseragam Pegawai Negri tengah menikmati pesanan nya dengan HeadSet putih yang beliau kenakan. Dan satu lagi ada segerombolan remaja. Duduk tepat di pojok sisi Kedai Kopi. Mereka berlima dengan tiga perempuan dan dua laki - laki. Tertawa sambil berfoto bersama. Kedai Kopi tak begitu ramai saat itu. Mungkin karena hujan datang di waktu pagi jam aktif. Tidak seperti biasanya, suasana Kedai yang begitu bising dengan tempat pemesanan antri karena ramai. Beberapa menit kemudian, langit pun mulai memancarkan wajah cerah. Berbagai bentuk awan putih mulai tersusun mengikutinya. Aku menyegerakan diri untuk pulang dan beristirahat.
♦
Home Sweet Home
Di pojok bagian kamar yang sempit, tempat paling spesial bagiku untuk menulis. Dengan lampu pijar kecil di atas meja dan beberapa buku yang tertata rapi. Aku berbaring di atas kasur memaksa badan untuk beristirahat. Aku mulai memikirkan suatu hal yang memungkinkan membuat diriku berani menyampaikan suatu pesan untuk Ia yang selalu menjadi objek utama dalam tulisan di buku note kecilku ini. Ia yang tidak bisa lepas dari pemikiranku. Aku berharap agar dapat mendapatkan banyak waktu untuk terus dapat berbincang denganya. Melihat lekuk senyum dan tawa kecilnya. Satu kebahagiaan besar bagiku ketika Ia menampakan wajah cerahnya di hadapanku. Sekitar 30 menit aku memikirkan tentang dirinya di atas kasur. Dan tiba - tiba....
Belum sempat Ia menjawab pertanyaan dariku, Ia membalikan badan seperti mencoba mengambil sesuatu dari dalam tas kecil berwarna biru muda yang Ia bawa. Dengan menyambunyikan benda yang akan Ia keluarkan. Ia tersenyum kepadaku dengan tipisnya. Lalu Ia menanyakan.
Dan entah darimana asalnya, Ia mengeluarkan buku Note kecil yang selalu ku bawa kemana saja. Aku langsung kaget dan merasa sangat heran. Darimana asalnya buku tersebut? Bagaimana caranya buku itu dapat masuk ke dalam tas kecil berwarna biru miliknya itu? Ia menaruh buku Note kecil itu ke atas meja lalu menutupnya erat dengan kedua tangan nya. Aku masih saja terdiam karena tidak percaya buku ada di tangannya.
Aku pun memesan kopi dengan antrian yang tidak terlalu panjang saat itu. Melihat Ia yang sedang membuka buku dan melihat tanpa membaca nya halaman demi halaman. Mungkin saja Ia telah membaca beberapa halaman sebelum nya. Dan itu mustahil karena buku itu baru saja ada di dalam tas yang kubawa ke kampus sebelumnya. Antrian terkakhir dan satu langkah lagi aku dapat meminta pesanan. Aku mendengar suara ponsel ku berdering kencang. Aku mencari suara ponsel tersebut. Merogoh ke empat kantung celana yang kupakai. Namun ponsel tersebut tidak berada disitu. Suara nya sangat kencang dan terasa sangat dekat. Namun ponsel itu tidak ada dimana - mana. Ibu Kedai pun tertawa karena melihatku seperti orang yang sangat kebingungan.
Dan ternyata..........
Aku terbangun dari tidur siangku waktu itu. Aku melihat ponselku dan ternyata jam telah menunjukan pukul 16.46. Ada dua panggilan tak terjawab dari adikku yang mungkin saja menimbulkan suara ponselku berdering di dalam mimpi yang sangat tidak masuk akal tersebut. Aku bersandar dan mulai memikirkan mimpi yang baru saja ku alami. Aku merasa senang dan juga merasa takut. Bagaimana ika hal tersebut nyata teradi? Bagaimana jika ia telah mengetahui semua isi dari buku tersebut? Aku mengambil buku Note kecil itu dari tas ku. Melihatnya dari halaman awal hingga akhir aku menulis. Aku mulai merasa malu dengan apa yang telah aku lakukan. Apa yang kutulis selama ini mungkin sia - sia. Mungkin saa mimpi yang datang barusan memperingatkanku untuk langsung bercerita tanpa melalui kertas kecil. Dan tugasku hanya mengumpulkan keberanian untuk mengatakan cerita dengan tatap muka bersamanya. Aku menutup buku Note kecil itu dan langsung bergegas untuk memandikan tubuhku,
"Tok... tok... tok...!!" Seseorang mengetuk pintu rumah berulang kali.
Aku segera berjalan ke arah pintu depan untuk membukanya.
"Assalamuaikum.... Halloooooo main yuuuukkk...?" Ia berkata saat aku masih terkejut karena melihat tamu yang datang adalah dirinya.
"Udah ayuukkk... kok malah bengong. Kita ngopi aja yuk....!!" Lagi - lagi ia mengatakan hal yang tidak bisa kupercaya.
Aku hanya menganggukan kepala dan berkata "Iyaa.." dan menyegerakan diri untuk bergegas pergi bersama nya.
Aku yang dalam keadaan sangat bingung dan linglung, mendapati Ia yang tiba - tiba datang ke rumahku dan mengajaku untuk pergi bersama. Aku tidak berbicara apapun sampai akhirnya kami tiba di Kedai Kopi. Aku tidak menyangka Kedai Kopi sangat ramai waktu itu. Kami pun mendapatkan tempat duduk di pojok Kedai tepat di bawah lukisan abstrak yang berada di dalam Kedai tersebut. Tidak ada pembicaraan seperti biasanya kami bertemu. Ia yang selalu berbicara panjang dan bercerita di depanku berubah menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Aku merasa ada suatu ke anehan ada pada dirinya. Tidak biasanya Ia seperti itu. Ia seperti sedang mendapat suatu masalah yang belum Ia ceritakan kepadaku. Karena setiap cerita yang Ia sampaikan padaku tidak lain adalah cerita dari keseharianya sampai masalah yang Ia dapatkan yang membuat dirinya terganggu dan meresa gelisah.
Kedai Kopi (bersamanya)
"Kamu kenapa...??" Aku memulai pembicaraan dengan nada sedikit ragu.
"Gak kenapa - kenapa kok. Lagi mau ketemu sama kamu aja, aku kangen.....hehe" Ia menawab tanyaku dengan pernyataan yang tak terduga olehku sama sekali.
"Serius nih, kamu gak seperti biasanya yang cerewet banget gitu hari ini. Apa ada masalah?" Lagi, aku bertanya karena tidak percaya akan jawaban yang Ia ucapkan.
"Aku mau tanya, tapi jawab jujur yaaa, jangan bohong... Gimana?"
"Iyaaaa, aku jawab jujur kok. Pasti!" Aku tersenyum menjawab pertanyaan nya yang sedikit membuatku bingung.
"Tulisan dalam buku ini....... Untuk siapa sih?" Ia menanyakanku sambil tersenyum dengan pertanyaan yang dengan cepat membuatku mengeluarkan keringat dingin.
"Eeehhmmmm..... Ituuuu... eeee...." Aku yang merasa terpojok dan tak bisa berkata kala itu.
"Hayoooooo, kamu itu sekilit, naksir sama orang tapi gak mau cerita - cerita..." Ia menjelaskan pertanyaannya membuat diriku semakin terpojok.
"Ehhhmmmm..... Iya nanti aku ceritain kok. Tapi kita pesen kopi dulu gimana? Kan belum pesen apa - apa nih?" Aku menjawabnya dengan elakan yang masuk akal.
"Okeeedeh, aku tunggu sini aja yaaa." Ujarnya sambil tersenyum seperti sangat ingin aku cepat bercerita akan rahasia di dalam buku tersebut.
Dan ternyata..........
Aku terbangun dari tidur siangku waktu itu. Aku melihat ponselku dan ternyata jam telah menunjukan pukul 16.46. Ada dua panggilan tak terjawab dari adikku yang mungkin saja menimbulkan suara ponselku berdering di dalam mimpi yang sangat tidak masuk akal tersebut. Aku bersandar dan mulai memikirkan mimpi yang baru saja ku alami. Aku merasa senang dan juga merasa takut. Bagaimana ika hal tersebut nyata teradi? Bagaimana jika ia telah mengetahui semua isi dari buku tersebut? Aku mengambil buku Note kecil itu dari tas ku. Melihatnya dari halaman awal hingga akhir aku menulis. Aku mulai merasa malu dengan apa yang telah aku lakukan. Apa yang kutulis selama ini mungkin sia - sia. Mungkin saa mimpi yang datang barusan memperingatkanku untuk langsung bercerita tanpa melalui kertas kecil. Dan tugasku hanya mengumpulkan keberanian untuk mengatakan cerita dengan tatap muka bersamanya. Aku menutup buku Note kecil itu dan langsung bergegas untuk memandikan tubuhku,
♦
Esok Harinya
Jadwal kuliahku hari ini sedikit padat. Dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Aku pergi ke kampus dengan cuaca cerah waktu itu. Matahari bersinar dengan sedikit kabut yang masih tersisa dari hujan yang turun kemarin malam. Mengikuti jam - am mata kuliah seperti biasa nya. Dan sekitar pukul 9. Aku mendapat informasi bawha dosen tidak hadir. Lalu aku dan beberapa teman bersantai menuju parkiran motor untuk bersantai dan berbincang.
"Hallooooo.... maen yuk hari ini? Aku mau cerita." Aku mendapatkan satu buah pesan SMS dari dirinya yang meminta diriku untuk bertemu denganya hari itu.
Aku tersenyum. Melihat pesan yang baru saja kuterima darinya. "Iyaaadehhh, tapi nanti yaa, mungkin sore nanti kita ketemu kok."
"Jangan sore dong, sekarang aja gimana? Masih pagi nih enak tau klo ngopi? hihi..." Ia membalas pesanku dengan sedikit paksaan.
"Kebetulan sih emang lagi gak ada dosen, okee klo gitu aku susul kamu sekarang yaa...?"
"Iyaaaa aku tunggu yaaaa..."
Aku izin untuk pulang dengan beberapa teman ku disana dan menyegerakan diri untuk menjemputnya. Aku mendapati perasaan yang tercampur aduk tidak seperti biasanya. Di tengah peralanan menuju rumahnya aku memikirkan hal tersebut. Perasaan yang berantakan. Tercampur aduk dari senang, takut, gelisah dan ragu. Mungkin kah aku membicarakan hal yang kusebut rahasia ini sekarang? Atau mungkin aku hanya meneruskan cerita ini di atas kertas kecil saja? Bagaimana jika ternyata hal ini berjalan mulus, akan ada perkelahian antara perasaan antara aku dengan nya nanti? Akankah kami masih saling sapa antar satu sama lain?
Tidak terasa akupun sampai. Ia mengenakan baju putih dengan tas favorite nya yang Ia kenakan saat datang di dalam mimpi ku kemarin siang. Dengan rambut lurus yang dikuncit seperti kuncir kuda saat itu. Ia terlihat sangat cantik. Entah, ini khayalan ataukah nyata. Mungkin aku yang terlalu berkhayal dan berlebihan. Tapi Ia memang begitu cantik hari itu. Kami pun berangkat menuju Kedai Kopi. Bercanda di tengah perjalanan. Aku hanhya mendengarkan celotehnya yang tidak kunjung henti seperti biasanya. Ia memang wanita lucu dengan banyak cerita yang tidak bisa kuduga begitu saja.
Kami pun sampai dan mendapatkan tempat duduk di tengah Kedai. Ia langsung duduk dan aku beranak untuk memesan. Karena Kedai yang masih sepi di jam pagi dan antrian pun kosong. Aku memesan satu Kopi Ekspresso dan satu kopi White Latte. Dengan sarapan 2 porsi roti keju bakar. Aku tidak langsung pergi dan memanggil Ibu Kedai.
"Bu aku mau cerita...." Aku memulainya dengan nada sedikit semangat.
"Cerita apa nak?"
"Kemarin, sepulang dari sini aku bermimpi pergi kesini dengan 'dirinya' buuu...." Aku mengecilkan nada bicaraku.
"Wahhh seriuss....?? Itu jadi kenyataan dong? Kamu tadi masuk sama 'dia' kan barusan?"
"Iyaa bu, mungkin hari ini aku mau cerita ke 'dia' tentang isi buku aku yang kemarin bu..." Aku langsung menerobos perkataanku mencoba jujur dengan Ibu Kedai.
"Sudah Ibu dugaa.. pasti buat 'dia'... Langsung bilang aja, jangan ragu terus, jangan sampai nunggu kesempatan di lain waktu lagi naakk....." Ibu Kedai menegaskanku dengan ucapannya.
"Okedeeeh bu... Doain yaa" Aku mengakhiri percakapan dengan tertawa dan langsung kembali ke kursi.
Aku yang terlihat seperti orang gila karena terus tersenyum sambil berjalan menuju kursi tempat kami duduk. Ia pun tertawa dan langsung saja menanyakan.
"Kok lama banget? Ketawa - ketawa lagi nih baru dateng...??" Ia mengatakanya dengan penuh nada heran.
"Iyaaa tadi Ibu Kedai curhat, dia lagi galau katanyaaa hehehehe...." Aku membalas pertanyaanya dengan gurauan kecil.
"Nakannn.... error nya kumat nih mulai..."
Pesanan pun datang beberapa menit kemudian. Ibu Kedai tak lantas pergi. Ibu kedai merogoh saku serbet yang dikenakanya dan mengeluarkan satu buah pena. Entah apa alasan Ibu Kedai. Ibu Kedai menaruhnya begitu saja lalu kembali ke tempat kasir sambil tersenyum yang sedikit mencurigakan bagi kami. Ia pun langsung menanyakan nya padaku.
"Kayaknya Ibu Kedai sengaja banget nih ninggalin pena disini.... Apa Ibu Kedai beneran lagi galau yah? Kayaknya kamu bener deh Ibu Kedai emang lagi galau tauuu....." Ia mengatakan kata - kata spontan yang membuat diriku langsung tertawa.
"Hahahaha..... Yaaa bener kan? Ibu Kedai emang lagi galau nih pasti..." Aku meneruskan canda nya yang mulai sedikir ngawur.
Kami pun asik berbincang dan bercerita. Ia menceritakan kejadian hari - hari nya di kampus. Dan aku hanya menjadi pendengar dan tidak bercerita apa - apa karena merasa sangat canggung waktu itu. Aku merasa seperti terpojok oleh situasi yang tidak menentu. Yang mungkin saja itu tercipta karena mimpi yang kualami kemarin siang. Aku merasa seperti orang yang tengah menyimpan bunga di tempat tertutup lalu membiarkan nya layu begitu saja. Dan aku tidak ingin hal tersebut terjadi. Aku berharap bunga tersebut dapat terus hidup dan tumbuh dengan seseorang yang merawatnya hingga bunga tersebut mekar dengan indahnya.
♦
Satu jam sudah kami bercerita. Aku memandangi gelas Kopi Ekspresso sambil memeganginya. Aku masih saja berfikir. Apakah ini hari yang di takdirkan untuk diriku mengucapkan perasaan yang telah kupendam selama ini? Aku yang merasa sangat bingung dan terus menampakan wajah seperti orang yang tengah mendapatkan keresahan seketika kaget.
"Uyyyyy bengong aja loh dari tadi, cerita dong. Kayaknya dari tadi diem ajaaa... Padalah keliatannya punya cerita banyak deh dari mukanya..." Ia mengagetkanku dangan memukul keningku dengan pena yang diberikan Ibu Kedai sebelumnya.
"Iyaaaa ada... tapi bingung gimana cerita nya ini..." Aku menjawab nya dengan sembrono.
"Loh kok binguuuung? Emang cerita masalah apaan sih?"
"Ooohhh aku tauuu, pasti kamu lagi galau juga yaa mirip Ibu Kedai nih..."
"Ehhhh tapi kamu galau gara - gara siapa yaaa?"
"Cepet dong ceritaaa..."
Ia yang mulai menanyakan ku seperti layaknya percakapan introgasi.
Aku yang merasa semakin terpojok semakin merasa panik dan merasa deg - degan saat Ia mulai menanyakan nya dengan nada sedikit memaksa. Aku terdiam dan tidak menjawab pertanyaan nya yang terucap berkali - kali karena sangat - sangat bingung. Aku hanya terdiam menatap pena yang terus saja Ia pegang dan Ia perhatikan sejak awal Ibu Kedai meninggalkannya. Aku merasa putus asa, ingin mengajak nya pulang dan menunggu hari lainnya untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Hal yang tertulis penuh di buku Note kecilku.
"Udah aahhhh, kamu mah malah diem ajaaa.. Pulang aja yuukkk..." Ia mengatakan dengan nada yang terlihat bosan.
Aku masih saja tetap diam dan tidak mengatakan apapun. Aku hanya menatap wajahnya dan tersenyum kecil. Tidak merespon apapun yang Ia katakan.
"Aku di didemin terus nih dari tadi, aku pulang sendiri aja yaaa..." Ia mulai sedikit kesal karena tingkah ku yang hanya diam.
"Jangan, aku masih mau cerita sama kamuu..." Aku mengatakannya dengan spontan.
"Yaa apadong, jangan diem aja atuuuhh...."
Aku menunduk dan berfikir. Dan seolah mengatakan dalam hati "Ayooo.. bilang sekarang ajaa... Klo udah pasti lega. Gak perlu jawaban kok. Cuma jujur bilang ajaaa...". Perlahan aku mengeluarkan catatan buku Note kecilku yang berada di dalam tas yang kubawa. Ia memperhatikan ku dengan sedikit menyembunyikan wajah bingung nya. Aku tidak langsung memberikan buku tersebut kepadanya. Aku hanya menaruhnya di atas meja dan menutupnya dengan kedua tanganku. Percis seperti yang Ia lakukan pada saat berada dalam mimpi kemarin.
"Itu buku apaa? Kok kamu kayaknya canggung banget pas keluarin bukunya?"
Aku tersenyum dan merebut pena yang berada tepat di tangan kanan nya. Pena yang diberikan Ibu Kedai. Aku baru saa menyadarinya. Aku menulis menggunakan pena tersebut tepat di bagian belakang buku. Kertas terakhir pada buku Note kecil tersebut.
Lalu aku memberikan buku tersebut kepadanya. Dengan halaman awal yang bertulis 'namanya' Ia langsung meneruskan perjalanan untuk terus membuka halaman demi halaman. Begitu banyak curahan perasaan yang ada dalam satu buku kecil. Dengan satu pesan, satu nama, satu rasa. Ia hanya diam dan tersenyum membaca pesan ku yang kutulis dengan pena Ibu Kedai sebelumnya. Lalu Ia mulai sedikit mengeluarkan air mata kecil setelah mencapai tengah halaman dan tidak berkata. Ia pun diam mengikuti permainan 'bisu' yang kubuat. Ia hanya menatapku dengan senyum manisnya sambil menutup buku Note kecil itu perlahan. Aku yang merasa malu langsung saja menunduk dan tidak berani menatap waahnya. Perlahan Ia menggeserkan gelas kopi White Latte yang Ia pesan. Secara perlahan ada tulisan di atas meja yang dibuat dari sebuah pena. Aku yang masih saa tertunduk malu langsung saa melihat ke arah tulisan tersebut. Dan ternyata, tulisan tersebut pun Ia buat untukku. Entah kapan Ia menuliskannya untukku. Mungkin disaat ku terus lama berfikir untuk mengatakan sesuatu padanya, Ia menulis tulisan tersebut tanpa sepengetahuanku. Tulisan tersebut tidak begitu panang dan tidak begitu singkat. Tulisan tersebut bertuliskan....
Aku dan Kamu... Pasti bareng - bareng kan nantinya? :')
Ia menuliskanya dengan hiasan emotion yang Ia buat. Aku tidak percaya dan menatap wajahnya. Ia lantas mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak aku duga.
"Kamu masih enak 2 tahun, aku nih 4 tahun nunggu kamu begini...." Ia mengucapkan hal yang langsung saa membuat diriku kaget.
"Maafin aku yaaa. Kita harus berterima kasih dengan Ibu Kedai dan Kedai Kopi ini. Dari sini kita bisa saling ucap walaupun lewat surat. Anggap saja pena ini sebagai penyelamatnya" Ujarku dengan nada yakin karena mendengan apa yang Ia katakan.
Kami pun menemui Ibu Kedai dan sangat berterima kasih kepadanya, Ibu Kedai hanya tertawa seperti biasanya.
Cerita kami pun berlanjut hingga kini. Dengan surat, kamu bisa berucap dalam diam. Dengan surat, kamu bisa meluapkan emosi dalam maya. Hanya surat yang dapat menciptakan perasaan nyata yang berada dalam tekanan. Takkan ada yang disalahkan. Surat itu mati, namun rasa tetap hidup. Cerita yang terbangun dari sajak. Kami berharap ini semua menjadi awal dari segala keindahan yang akan memakan banyak kertas untuk dijadikan tempat untuk merekam nya dan menulis di atasnya. Terima kasih Ibu Kedai. Terima Kasih Kedai Kopi Ekspresso.
Terimakasih Kertas :)
No comments: