Topeng Nyata dari Super Hero
10 Sep. 15
Hari dimana aku merasakan apa itu kebahagiaan, kesedihan, dan kemurkaan serta kepanikan tercampur aduk kedalam satu kepala. Kebahagiaan yang telah terbangun dari hasil kinerja ku yang dapat membuat orang ramai bahagia. Mereka tersenyum tanpa ragu dan seakan – akan benar melupakan masalah mereka tidak untuk sejenak, namun selama nya. Tawa mereka yang begitu lebar, senyum mereka yang begitu halus dengan bibir mereka yang tanpa ragu melekukkan pipi dan membuat suatu lubang senyum pipit yang luar biasa. Memaksa mata mereka untuk mengeluarkan air mata kebahagiaan yang tertetes paksa oleh hati dan jiwa mereka yang sedang berkobar ke dalam lubang kebahagiaan kala itu. Aku melihatnya, semua momen kebahagiaan mereka yang terekam oleh kepalaku. “Mereka”, adalah sahabatku. Tidak! Ini lebih dari sekedar sahabat yang kalian kira. Aku pun tak mengerti bagaimana cara mengatakan dan mengungkapkan nya. Tapi merekalah saudara nan tak sekandung namun sangat – sangat berarti bagiku. Mungkin kalian pun merasakan nya. Memiliki saudara tak sekandung yang selalu ada dimanapun dan kapanpun kalian membutuhkan nya.
Aku mulai merasakan hidup ku seperti menjadi peran utama dalam sebuah film, dimana aku berharap suatu saat ending cerita ini akan menjadi sorotan dan pelajaran bagi semua orang. Memiliki akhir bahagia yang membuat kalian semua iri dengan kehidupanku. Kisah nyata yang terekam dunia di atas kertas kecil yang tertulis oleh tangan yang telah lemah, hati halus kasar, wajah penuh topeng, dan tubuh yang tak setiap saat bisa kokoh. Siapa aku? Berlagak layak nya pemeran utama sebagai Super Hero yang bisa membantu masalah mereka. Orang yang selalu “sok” hebat dalam menanggung beban di atas kedua pundak nya sendirian. Bodoh! Itu pemikiranku yang selalu aku pertanyakan dan tak pernah kusudahi. Karena aku hanya percaya, hanya akulah pemeran utama. Yang memiliki topeng ganda untuk meutupi semuanya. Mata yang selalu risih melihat wajah murung tak seperti biasanya. Hati yang kesal karena air mata hanya digunakan pada saat kesedihan tiba. Kepala yang tertunduk oleh keputus asa-an. Telinga yang selalu mendengar keluhan dari dalam hati mereka.
Apa ini? Apa yang terjadi oleh mereka? Dan siapa aku? Berani nya mencampuri urusan mereka. Menjanikan dan meyakinkan mereka bahwa akan ada nya kebahagiaan setelah kesedihan itu berakhir. Sang pemeran utama pun telah kehabisan waktu dan topeng untuk menutupi semua nya. Super Hero yang hadir pun telah hilang. Inilah kisah, dimana aku merasakan itu semua kedalam satu hari yang aku renungkan dan bicarakan dengan sisi lain dari diriku. Yang mungkin saja berhati kasar dan penuh ke egoisan. Tak berjiwa pahlawan, tak ingin menjadi pemeran utama dalam sebuah cerita. Menjadi peran antagonis yang merubah dan menyadarkanku serta muncul sebelum cerita ini berakhir.

nyastra.... kerenn
ReplyDelete