Mata Sipit Pemanggil Rasa

13:06
     Berulang kali ku melihat jam dinding yang berada tepat di atas kepala ku. Detik yang tak kunjung henti menambah rasa gelisah nan ragu. Gelap dan gemuruh mulai menyelimuti suasana halaman kampus biru kala itu. Halaman kampus yang ramai berubah menjadi sepi ketika orang - orang berlarian untuk meneduh akan datangnya tetesan hujan. Aku masih terdiam di kantin kampus biru tepat di ujung halaman kampus. Menanti kehadiran gadis bermata sipit yang biasa kulihat keluar dari pintu belakang gedung kampus.
    Gadis berambut panjang dengan kilau hitamnya, ditambah mata sipit yang membuat dirinya terlihat manis akan wajahnya ketika tersenyum dengan bibir tipisnya. Hanya saja, semua keindahan akan dirinya tak bisa kusapa dengan kata. Hanya berlalu begitu saja di depan mataku. Aku, memperhatikanya dari jarak yang tidak pernah ia ketahui. Memperhatikan tawa kecilnya ketika ia bercanda dan berbincang dengan teman - temanya.

     Tak begitu istimewa. Namun, ada rasa dibalik ketidakbiasaan ini. Selalu saja diriku melihat dan memperhatikan keberadaannya. Tawa kecil yang menambah sipit akan matanya. Kilau rambut hitam panjangnya ketika sinar matahari menyorot tubuhnya dari setiap langkahnya. Oooh... Dia...

     "Siapa kau sebenarnya!?" Gumamku hari ke hari dengan penuh rasa ragu dan penasaran.

Kampus Biru

     Aku berbincang dengan beberapa siang itu. Di bawah halte kampus tepat dimana aku dan teman - teman biasa bersantai setelah jam kuliah telah usai. Membicarakan hal - hal aneh yang telah terjadi di kelas sebelumnya. Menertawakan kejadian aneh waktu saat kami di kelas sebelumnya. Tak terasa langit pun gelap. Diselimuti awan Desember yang memiliki banyak cerita akan hujan. Kami pun menyegerakan diri untuk bersiap pulang kerumah. Aku berjalan menuju gedung kampus untuk berlindung akan ramai nya rintik yang mulai membasahi rambut ikalku. Kaki ku mulai berjalan cepat karena hujan semakin deras. Berjalan cepat dengan tangan kanan menutupi kepala dari hujan.

     "Waduh.... Hujan, gimana nih? apa labas aja? nanggung tuh kantin udah deket kok klo mau fotocopy.
     "Iya... labas ajalah nanggung banget!" Obrolan dua gadis di sebelahku yang tak sengaja ku dengar.

    Dua gadis tersebut berlari menuju kantin kampus yang sebelumnya aku mendengar percakapan mereka untuk  fotocopy. Aku masih menunggu hujan sendiri dengan beberapa orang yang tak ku kenal berdiri disebelahku. Aku melihat kebawah dan menatap kedua kakiku yang memakai sepatu Converse yang terlihat lusung. Berdiri menghindari basahnya tanah karena hujan yang belum terhenti.

     "Plak... Plak... Plak...!!!" Bunyi air yang terciprat oleh kaki seseorang yang sedang tergesa - gesa berlari tepat ke arahku.
     "Wuuuuh... basah deh... gimana dong? Langsung pulang apa santai dulu nih?" Dua gadis itu kembali dan berbicara tepat di sebelahku untuk kedua kalinya.
     "Nyantai dulu deh... capek naik turun tangga." Ucap gadis bermata sipit sambil mengatur nafas nya yang tengah tergesa karena berlari.

     Untuk pertama kali nya aku melihat wajahnya dengan jelas. Gadis bermata sipit itu tepat berada di sebelahku. Aku melihat rambut, mata hingga kaki yang basah karena terguyur hujan. Dan tiba - tiba dia menyadari tatapan iseng yang tanpa sadar ku memperhatikanya cukup lama. Dia menatap kearahku. Aku sontak terkaget dan menundukan wajahku. Melihat kembali sepatu lusung yang kupakai. Percis seperti perasaanku saat itu yang begitu lusung saat melihat gadis cantik menatapku ku dengan mata sipit tajamnya. Kucoba mengalihkan perhatian dengan melihat sekitar. Melihat jendela gedung lantai 4, melihat ramainya orang berteduh di kantin, serta melihat kerumunan orang yang menerabas hujan di depanku dengan menjinjitkan kedua kakiku untuk mengalihkan pandangannya ke objek yang lain selain diriku. Seolah - olah aku berpura - pura sedang melihat hal seru di depan agar mata gadis itu tertuju akan apa yang kulihat tersebut. Dan trik kecilku pun berhasil. Dia menatap apa yang kulihat. Perasaanku mulai aneh, aku merasa sangat malu ketika dia memergoki mataku yang terus tertuju padanya. Mungkin dia berfikir anak laki - laki berambut ikal yang melihat dan memperhatikannya tadi mengganggap dirinya seperti orang aneh yang menerabas hujan hanya untuk  fotocopy di kantin lantai 2 sore itu. Tapi aku tidak seperti itu, aku menganggap itu lucu dan gadis itu terlihat begitu cantik ketika tengah mengeringkan ujung rambutnya yang basah. Aku menggerakan kaki untuk melangkah ke arah motor Mio yang selalu kubawa ke kampus dan bergegas untuk pulang tanpa menegur ataupun meninggalkan senyum pada gadis yang sempat menatapku.
     
     Hujan di bulan Desember terkadang seolah ingin memberi pesan tersendiri bagi penikmatnya. Hujan tak seburuk yang kau kira. Mereka datang karena mereka ingin tanah dan rumput itu terlihat segar dan hijau. Merubah kegersangan halaman kampus menjadi sejuk yang tak terduga. Hari demi hari berlalu. Aku belum sempat tahu siapa nama gadis bermata siput itu. Dan terkadang ketika aku tengah sendiri di kampus biru itu aku berdoa kecil agar hujan datang dan mempertemukan kami. Memang aneh, tapi inilah kenyataan yang tak bisa terelakan oleh anak laki - laki yang selalu membawa buku novel untuk dibaca ketika memiliki waktu kosong kapanpun dan dimanapun dia berada sepertiku.

Kantin Kampus, Depan FotoCopy  (lantai.2)

     Aku duduk menunggu temanku yang sedang berada dalam perjalanan untuk menemuiku di situ. Duduk sendiri dengan kopi dan beberapa sisa piring kotor di meja. Aku membuka beberapa file yang akan di fotocopy. Tugas yang telah kukerjakan semalaman yang kusimpan di dalam tas hitam milikku. Aku membacanya sejenak sambil menunggu perjalanan jauh temanku yang sejak daritadi tak kunjung datang.

     "Hay kak..." sapa orang gadis dari belakangku yang jelas terdengar dan bukan sapaan untukku.

     Entah, aku terus mengira - ngira sumber suara yang baru saja terucap. Aku seperti mengenal suara tersebut. Tapi aku tak memikirkan nya terlalu dalam. Temanku pun datang dengan senyum anehnya yang membuatku merasa sedikit kesal karena membuatku menunggu dengan satu gelas kopi penuh. Kami pun melanjutkan untuk memfotocopy berkas file yang telah kupersiapkan sebelumnya.

     "Kita langsung kumpul aja ntar, trus nongkrong aja di halte..." Ajakan temanku setelah file fotocopy selesai.
     "Oke, ajakin aja yang laenya biar rame" Jawabku sambil menata file yang kupegang.

     Aku dan temanku berjalan ke arah tangga untuk turun dan menuju ruangan dosen untuk mengumpulkan tugas yang aku bawa. Dan tepat di belakang mejaku menunggu sebelumnya. Gadis bermata sipit yang lama tak terlihat tiba - tiba ada di sana. Berbincang dengan teman satu kelompokku di UKM. Aku mencoba biasa saja dan memerintahkan otakku untuk melarang mata ini melirik ke arahnya.

     "Kemana brooo... buru - buru amat bawa - bawa tugas mirip orang kantoran...hehehe" Ejek teman satu kelompok UKM ku tadi.
     "Biasa.... mau ngelamar dosen dulu biar akrab bro..." Jawabku dengan tawa.

     Dia, gadis itu menatap ke arahku dengan tatapan yang begitu kupahami. Dari wajahnya seolah berkata. "Itukan orang yang waktu itu..." Aku tak menghiraukanya lalu meneruskan jalan menuruni tangga menuju ruang dosen. Melewati halaman kampus dan halte yang kubicarakan untuk bersantai. Secara kebetulan aku bertemu dosen yang ingin kutemui dan aku lantas menghampirinya. Menyerahkan tugas dan langsung duduk di bawah halte untuk melepas lelah. Tiga orang temanku pun datang setelah di beri kabar untuk berkumpul di halte. Seperti biasa, kami membicarakan hal yang tidak penting yang dapat membuat kami tertawa. Tidak ada pembicaraan tentang tugas ataupun perihal tentang kuliah lainya. Hanya bercanda dan melakukan hal aneh di tempat favorit kami tersebut.
     Sore pun datang dengan cepat, hari itu awan mendung tidak hadir. Senja yang begitu cerah dengan langit kuning tua nya. Diselimuti awan besar yang menutupi matahari seperti membantunya agar cepat terbenam ke arah barat. Aku masih memikirkan momen pertemuan dengan Si Mata Sipit. Begitu misterius dan tak terduga. Setiap kali aku menginginkan untuk bertemu denganya, momen tersebut tidak akan hadir. Dan bila ku tidak memikirkanya, momen itu selalu hadir di saat aku benar - benar merasa tidak memiliki persiapan untuk menegurnya dengan sapaan kecil. Selalu timbul pertanyaan aneh di dalam diriku saat aku memikirkanya. Namun aku tidak ingin mendalami perasaan aneh yang tidak menentu ini. Hanya tertawa di dalam hati jika aku sedang mengingatnya.

29 Desember 2014, Senin Terakhir Tahun ini

     Aku terburu - buru karena telat mengikuti mata kuliah pagi itu. Aku berjalan cepat menuju Gedung F Lantai 4 untuk menghampiri kelasku. Lega rasanya masih diperbolehkan masuk saat itu. Mengikuti kuliah pagi dengan sedikit olah raga menaiki Lantai 4 Gedung F saat itu dengan tergesa - gesa. Hujan pun datang di pagi menuju siang tepat dimana matahari biasanya sedang beranjak naik ke atas kepala bumi. Lagi dan lagi, aku bersantai sendiri di tempat favorit tanpa teman. Aku berencana untuk membuat ulang tugas yang telah aku kumpulkan tempo hari. Dikarenakan aku mendapatkan BBM dari dosen yang mengajar mata kuliah tersebut. Dosen itu memberiku perintah untuk membuat ulang tugas tersebut karena masih ada dua bagian halaman yang masih salah. Lantas aku mengerjakanya dengan laptop yang kubawa. Berharap kali ini tugas ini tidak gagal dan selesai.
     Masih di bawah  halte selesai mengerjakan tugas dan hujan belum terhenti. Aku membawa fotocopy tugas yang sebelumnya. Dengan santai aku memasukan laptop ke dalam tas sambil mengambil kertas fotocopy dan mengeluarkanya. Aku merasa sedikit pusing, mungkin karena kurang tidur karena terus di hantam tugas dan begadang untuk mengerjakanya. Aku menyegerakan diri untuk menerabas hujan dan memeluk kertas fotocopy yang dibungkus plastik agar tidak basah saat terkena air hujan. Sesampainya di ruangan dosen. Kekecewaab pun datang seketika mendengar dosen yang telah menjanjikanku mengumpulkan tugas hari itu tidak hadir. Aku membawa tugas itu kembali menuju halaman kampus untuk pulang. Sambil memeluk plastik berisi file tugas yang sedikit masih basah terkena hujan. Kepalaku semakin pusing seakan menyuruhku untuk pulang. Aku berdiri di belakang gedung tempat aku dan gadis bermata sipit bertemu. Aku tersenyum kecil karena mengingatnya begitu saja.

     "Kak Ramanda, kenapa senyum - senyum gitu...?" Suara dari belakang dengan nada mengejek.

     Dengan spontan badanku berbalik dan melihat gadis yang sedang kubayangkan dalam fikiran dengan senyum kecil. Aku masih tak percaya ia tahu namaku dan menegurku di tempat pertama kali aku bertemu denganya. Aku merasa sangat malu dan wajahku mulai memerah saat itu. Untung saja dingin hujan membantuku agar sipu ku tidak terlalu terlihat jelas di depannya.

     "Iyaaaa hmmmm... ini.... lagi... .... ........ .... bingung aja kenapa hujan terus hehehe" Bualku dengan nada sedikit gagu untuk membalas tanya gadis tersebut.
     "Maaf, kamu kok bisa tau nama saya ya?" Tanya ku langsung memojokanya.

     "Tuh di kertas yang kakak bawa ada nama penulisnya kan.... hehehehe" Jawabnya dengan nada gurau sambil tertawa.

    Aku tidak bisa berkata apa - apa saat itu. Hanya perasaan senang yang luar biasa. Begejolak tak menentu hingga lupa akan kekecewaan terhadap dosen yang tidak sesuai janjinya kepadaku hari itu.

     "Jangan di terabas hujan nya, nanti basah kuyup trus kakak diliatin orang tauuuuu...."

     Lagi - lagi ucapanya tidak bisa kujawab dan aku hanya terdiam dengan sedikit senyum sambil menahan malu dan tawa. Lantas aku memberanikan diri untuk menegurnya untuk pertama kali secara formal. Terkesan aneh, namun aku hanya memikirkan apa yang kupikirkan saat itu.

     "Hay dek...." Sapaku.
     "Panggil aja aku............" Jawabnya dengan lekukan bibir tipis yang senyum ditambah mata yang semakin sipit karena senyumnya.

     Aku bercerita denganya secara langsung. Aku sama sekali tidak ada keberanian untuk berbicara sambil menatap wajah cantiknya. Begitu terang dalam penglihatanku saat itu. Aku masih tidak percaya akan hal ini. Kami bercerita seakan sudah mengenal satu sama lain. Tak ada batas untuk memilih kata yang ingin di ceritakan. Hanya berbincang hingga hujan terhenti dan kami menyegerakan diri untuk pulang. Senin, 29 Desember akhir tahun 2014. Aku mengingatnya. Selalu mengingatnya.................

     

No comments:

Powered by Blogger.