Perpisahan Tanpa Kata
Perpisahan Tanpa Kata
Manusia
pasti akan merasakan kegagalan dalam cerita cinta nya. Tentu saja, sebagian
dari mereka terkadang belum siap untuk menerima resiko apa saja yang mereka
hadapi jika jalan cerita cintanya tersebut gagal. Suatu hubungan yang serius
atau tidak, itu yang membuat kita berfikir semakin mengenal apa itu dunia. Dunia
yang kalian bangun dengan cerita kalian, keistimewaan cinta kalian, bahkan
kasih yang kalian beri sepenuhnya untuk pasangan kalian.
Aku
pernah menjalani suatu hubungan dengan seniorku. Jelas saja dia lebih tua
dibanding umurku, kami selalu bahagia tetapi kami belum pernah bersedih.
Walaupun kedua nya itu satu paket, tapi
kami berdua belum pernah merasakan sedikit masalah dalam kisah kami. Lalu pada
akhir cerita aku pun hanya bisa mengambil pelajaran. Dimana wanita atau pacar
yang kalian sayangi bisa saja pergi. Pergi bukan karena kecewa ataupun karena
keinginan nya. Melainkan pergi demi kepentingan kalian berdua. Memutuskan suatu
hubungan? Tidak, dia tidak memutuskan hubungan kami. Di suatu hari dia
menghilang tanpa kabar, dan aku pun tidak mencari tahu nya karena kesal. Dan
pada hitungan minggu, di minggu pertama aku mendapatkan kabar bawha dia
menikah. Menikah dengan orang yang pernah menjalani kisah dengan nya. Rasa ini
bukan seperti sedih. Ini yang kusebut mati. Mati akan rasa karena terlalu
tinggi membangun rasa itu lalu tersungkur karena suatu hal yang tak jelas namun
nyata di depan mata kalian. Sadar akan hal yang telah terjadi, aku mencoba
untuk belajar ikhlas. Diantara kami belum ada satupun yang mengatakan berpisah
atau semacamnya. Kata terakhir aku bertemu pun begitu manis. Di saat itu dia mengalami
sakit, sakit yang lumayan keras dalam tubuhnya dan dia tak memberitahuku
tentang penyakitnya tersebut. Kata terakhirnya adalah;
“Aku
tak mengapa, mungkin kamu memikirkanya. Terima kasih untuk itu. Tapi aku justru
bersedih jika kamu memikirkan ini. Biarkan saja, kesedihan itu bohong. Jangan
lah menjadi orang yang terlalu serius. Aku menyayangimu bukan dari keseriusan.
Aku menyayangimu dari segi tulus yang tak mungkin kamu ukur. Jadi lupakan,
biarkan aku yang tahu betapa aku sayang padamu. Kamu hanya perlu menerima nya
saja.” Ujar nya dengan senyuman yang sangat meyakinkan bagiku.
Ucapan
tersebut yang kupegang selama ini. Di
minggu kedua pun akhirnya aku sadar dia benar – benar telah memiliki komitmen
besar dengan orang lain. Kalian tak bisa bayangkan betapa besar tembok kokoh di
depan kalian jika pasangan kalian tersebut meninggalkan kalian tanpa kabar dan
menjadi seperti ini. Tak ada alasan untuk kembali, karena cincin dan buku
pernikahanlah yang menghalangi hubungan kami. Buakan cinta, buakan rasa.
Sewaktu ketika aku pun bertemu teman – teman nya di kampus. Lalu aku menanyakan
kepada mereka tentang “dia”.
“Eh,
si A apa kabar ya? Gua udah lost contact tau
sama dia…” Tanyaku dengan kebohongan, karena sesungguhnya aku sudah mengetahhui
apa yang terjadi pada nya.
“Dia berhenti kuliah dan sekarang bekerja di suatu daerah di pulau Jawa Do.” Ujar salah satu teman nya dengan kebohongan pula.
“Sekarang dia kerja? Bukanya dia menikah ya?” Jawabku dengan senyum yang menusuk kebohongan mereka yang menutupi cerita.
Lantas mereka pun terkejut akan pertanyaan ku tadi. Dengan raut wajah mereka yang bisa kulihat bingung seperti menyembunyikan suatu hal penting di depanku. Dan salah satu teman nya pun menemuiku tidak lama setelah itu. Dia memberitahu semua nya kepadaku. Bercerita sebab akibat mengapa semua nya ini terjadi. Lantas akupun tersenyum dan tidak bersedih. Temanya pun heran mengapa hanya senyuman yang ku berikan kepadanya setelah mendengar semua cerita ya.
“Terimakasih
ya, mungkin emang benar jalan yang dia pilih untuk menikah tanpa
memberitahhuku. Dia orang yang memegang
teguh omongan nya. Tolong sampaikan kepadanya kata – kata ini…”
Aku
menulis di sebuah kertas kecil dengan tulisan kapital 6 huruf.
“K E N A P A…?”
Tolong sampaikan pada si A. Ini bukan pertanyaan tentang alasan dia pergi, ini hanya petanyaan yang menanyakan bahwa mengapa tak ada undangan ataupun kabar setelahnya.
Beberapa
bulan berlalu, akupun melaksanakan aktifitas seperti biasanya. Kesibukan di
kampus. Memang aku terlihat sedikit berbeda namun aku harus membiasakan diri
bahwa orang yang sering bersama denganku sudah memiliki komitmen yang besar
terhadap orang lain. Dan akupun harus sadar akan hal tersebut. Di sore hari di
sekitar halaman kampus teman si A yang kemarin menemuiku dan memberikan sebuah
surat balasan dari si A. Akupun menerima surat tersebut dan kembali ke rumah.
Sesampainyha dirumah aku membuka surat yang tadi diberikan oleg teman si A. Aku
membuka surat tersebut dan seketika aku terkejut saat membacanya. Aku membaca
nya berulang – ulang hingga aku memahami benar akan isi surat tersebut. Isi
surat tersebut ternyata beberapa ucapanku yang telah kuberikan kepadanya saat
kami masih bersama, lalu ia merubahnya dengan berbagai kata yang dia tambahkan.
Kutipan kecil tentang perasaan yang tak bisa kita lewati. Isinya adalah :
Untuk kamu,
“Mungkin aku bukanlah seorang Nabi yang begitu sempurna untuk menjadi manusia. Aku hanya lah aku, mencoba mengenali arti dari rasa. Berusaha menjadi aku bagi kamuku. Aku tahu kamu telah kecewa akan hal kebodohanku ini. Namun ini bukan sekedar ingin ku. Terima kasih atas warna yang telah kau beri selama ini. Ini suatu pelajaran besar dalam hidupku yang belum pernah aku dapatkan dari siapapun. Boleh aku pesan sesuatu untukmu? Sapalah aku dan anakku ketika kita bertemu.”
Sekidit harapan,
A
Aku tersenyum setelahnya. Dan akupun belajar, apakah ini yang dinamakan seni takdir Tuhan? Memberikan kebahagiaan dan kesedihan dengan satu paket rasa. Datang secara bersama – sama dan bersifat adil serta sejajar. Tak ada lebih dan kurang. Jadi kamu bisa merasakan hal itu tanpa sedih ataupun bahagia. Tapi bagiku, ini suatu kebahagiaan.
Hal
inilah yang membuatku begitu dingin. Begitu tidak perduli akan rasa. Aku
menjadi orang yang berbeda, melihat dunia dengan sebelah mata serta tidak memperdulikan
sekelilingku saat itu. Seperti terpenjara dan terjerumus dalam penjara hati
yang kubilang sebelumnya. Tapi mengapa suatu momen hanya berpapasan saja semua
itu hilang dan berubah? Bahkan akupun tak mengenal sosok yang berpapasan di
depan ku berhari – hari. Aku berfikir bagaimana cara menyapa dan mendekatinya?
Aku tidak berfikir bagaimana cara agar aku bisa dapat merasakan kembali
kebahagiaan dalam berpasangan. Aku hanya memikirkan untuk berkenalan dan
berbincang dengan nya. Karena cukup dengan cerita kecil kita dapat tertawa dan
bahagia. Karena di umur remajaku yang sekarang aku mulai hidupku dengan tidak
terlalu serius. Melainkan dengan ketulusan yang tak mungkin bisa dinilai oleh
orang lain.

Sedih ya :(
ReplyDeleteini sediiihhh duuh :'D
ReplyDeleteKeren, Do.
ReplyDelete